Friday, May 02, 2003

Press Day:
Ancaman Kekerasan Terus Bayangi Para Jurnalis

Reporter : Suwarjono

detikcom - Jakarta, Hari ini, Sabtu (3/5/2003) masyarakat pers memperingati hari kemerdekaan pers sedunia. Apa yang menarik dari peringatan tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya? Kekerasan terus meningkat, seperti kasus terbunuhnya 11 jurnalis dalam invasi tentara Amerika ke Irak. Setahun sebelumnya, 20 jurnalis terbunuh dan 136 jurnalis dipenjara oleh rejim represif di berbagai negara dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Organisasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mencatat serupa, yakni semakin banyaknya kekerasan yang diterima kalangan pers. Sebagai akumulasi, diawal tahun 2003 kalangan pers Indonesia memunculkan perlawanan pers terhadap premanisme.

“Ancaman terhadap pers makin tampak. Sebab, pers dianggap potensial menjadi penggangu, bahkan dinilai kebablasan. Bahkan ada sebagian pihak yang merasa berhak menghakimi pemberitaan pers melalui aksi premanisme,” ungkap Ketua AJI Ati Nurbaiti kepada detikcom, Sabtu pagi (3/4/2003).

Apa ukuran jika kekerasan terhadap jurnalis terus meningkat? Ati Nurbaiti membeberkan daftar kekerasan yang terus meningkat. Sepanjang periode 3 Mei 2002-3 Mei 2003, AJI mencatat ada 72 kasus tekanan terhadap jurnalis dan media massa. Dari 72 kasus, AJI mencatat 33 kasus yang merupakan aksi premanisme--penggunaan jalan kekerasan untuk menyelesaikan perselisihan dengan media atau jurnalis.

“Misalnya aksi penyerbuan pendukung pengusaha Tomy Winata ke kantor Majalah Tempo di Jakarta pada 8 Maret lalu. Massa tak hanya memprotes, tapi juga melakukan penganiayaan terhadap awak redaksi Tempo. Aksi serupa di propinsi Aceh pada 22 Oktober 2002, saat sekelompok massa tak dikenal membakar mobil dan kantor harian Serambi Indonesia,” ungkap Ati.

Meskipun jurnalis sudah terlindungi dengan UU Pokok Pers, yakni UU No 40 tahun 1999, ternyata penerapan dilapangan belum sesuai yang diinginkan. Paling tidak jika dilihat dari berbagai kasus yang muncul, para jurnalis belum terlindungi.

Dalam pandangan Ati Nurbaiti, aparat hukum hampir tidak melakukan tindakan berarti untuk mencegah terjadinya kekerasan. Misalnya, hampir 90 % kasus-kasus kekerasan itu dilaporkan ke polisi, namun kurang dari 5% kasus yang diadukan itu ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.

Sementara untuk kasus yang dibawa ke pengadilan, tuntutan hukumnya sangat ringan. “Contoh, pelaku aksi premanisme terhadap Tempo hanya dikenai pasal 335 KUHP delik perbuatan tidak menyenangkan dengan tuntutan hukum hanya satu tahun. Penggunaan pasal ini kan tak tepat, terlalu ringan,” ungkap wartawan senior di The Jakarta Post ini.

(jon)
Korban Tewas SARS 417 Orang
Sumber : who.int

detikcom - Jakarta, Meski WHO mengumumkan trend wabah SARS menurun di sejumlah negara, namun korban tewas SARS terus bertambah. Hingga Sabtu (3/5/2003) ini tercatat 417 orang yang meninggal karena wabah sindroma pernafasan akut ini.

Dalam daftar WHO yang diperbarui pada 2 Mei 2003 pukul 17:00 GMT+2 waktu Jenewa, kasus SARS di 27 negara mencapai 6.054 kasus, dan 2.643 sembuh.

Dalam daftar WHO itu, terdapat 2 tabel baru yang dipasang, yaitu tanggal terakhir kasus probable SARS dilaporkan dan tanggal terakhir jumlah kasus yang sedang berjalan. Beberapa minggu lalu tabel WHO itu telah ditambahi dengan jumlah pasien yang berhasil disembuhkan. Akumulasi jumlah kasus maupun jumlah orang yang tewas itu dihitung mulai 1 November 2002.

Menurut WHO, di Indonesia kasus probable (diduga kuat, di atas suspect-red) ada 2. Sedangkan yang meninggal 0 dan yang sembuh 1.
(nrl)